pilpres 2024

[pilpres 2024][list]

sosial budaya

[sosbud][bsummary]

Pewaris Rumah Terkutuk - Bab 1 Rumah Mbah Kakung

 


Cerita Dewasa Bersambung


* Rumah Mbah Kakung *


Rahmat dan Aisyah, pasangan muda suami istri, menempuh perjalanan panjang dari kota menuju desa tempat rumah warisan keluarga Rahmat berada. Mereka mengendarai mobilnya melewati jalan berliku yang melintasi hutan dan perkebunan, menuju ke arah pegunungan. Pemandangan yang mereka lihat di sekitar sangat kontras dengan kehidupan perkotaan yang biasa mereka jalani. Di sana, mereka melihat sawah terhampar luas dan hamparan hijau dari kebun teh yang menyejukkan mata.


Setelah tiga jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di desa tempat rumah warisan keluarganya berada. Desa itu terletak di sebuah lembah kecil yang diapit oleh dua bukit. Di tengah desa terdapat lapangan yang luas dan di salah satu sudutnya terdapat bangunan sebuah masjid kecil yang sederhana. Rahmat merasa terkesan dengan keindahan desa ini, semangatnya untuk melaksanakan wasiat ayahnya semakin menggebu.


Rumah warisan keluarga Rahmat terletak di ujung desa, di sebuah tanjakan kecil yang menghadap ke arah perkebunan yang sepertinya sudah tidak diurus sehingga lebih mirip semak belukar. Rahmat meenghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang lalu mengajak Aisyah turun. Pintu gerbang rumah itu memang tidak terkunci tetapi terlihat tertutup. Dari pintu ini, kira-kira masih ada 5 meter untuk sampai ke teras rumah.


Sambil menatap rumah besar itu dari pintu gerbang, Rahmat berujar kepada Aisyah, "Dulu aku sempat tinggal di sini, dari lahir hingga kira-kira kelas satu SD. Namun aku tidak tahu persisnya kenapa, Bapak tiba-tiba disuruh pergi oleh Mbah Kakung. Yang aku ingat saat itu, Bapak dan Ibu segera berkemas dan mengurus segala sesuatunya untuk pindah ke Kota di mana kita sekarang tinggal."


"Ambil hikmahnya saja Mas, " sahut Aisyah, "Kalo Mbah Kakung tidak menyuruh Bapak pergi, mungkin kita tidak akan pernah berjodoh," lanjut Aisyah sambil tersenyum.


Rahmat dan Aisyah membuka pintu gerbang lalu perlahan berjalan masuk melewati halaman. Rumah itu terlihat besar dengan gaya khas model Belanda, jendela-jendelanya besar dengan tiang-tiang yang tinggi. Rumah ini sepertinya terabaikan sehingga terlihat kotor. Rumput liar dan semak belukar tumbuh di sekitarnya, jendela dan pintu terlihat pecah dan rapuh. "Kira-kira sudah 30 tahun rumah ini tidak di urus dan di huni, jadi wajar saja kalo seperti ini kelihatannya," Rahmat berujar sambil melihat kondisi sekeliling di luar rumah. "Sepertinya butuh waktu agak lama untuk merenovasi rumah ini baru bisa kita tinggali," sahut Aisyah. "Tapi kenapa sampai selama itu Mas, 30 tahun rumah ini dibiarkan begitu saja?" tanya Aisyah.


"Sebelum Bapak meninggal bulan lalu, beliau sempat bercerita sedikit. Seminggu setelah kita pindah dari sini, sebuah peristiwa yang menyedihkan terjadi, seluruh keluarga Mbah Kakung yang tinggal di sini meninggal dalam sebuah kecelakaan. Bus kecil yang berisi penuh seluruh keluarga Mbah Kakung yang akan pergi berwiasata, tergelincir masuk jurang. Hanya tinggal Bapak dan keluarganya karena tidak ikut dalam perjalan itu. Jadi bapak sempat berpikir, Mbah Kakung sengaja mengusir Bapak untuk menyelematkan dari tragedi yang memilukan itu."


Rahmat melanjutkan, "Kamu tahu Ais? Sejak dari kecil, aku baru tahu cerita semua itu ketika Bapak akan meninggal. Setiap kali aku tanya saat lebaran atau saat-saat yang lain mengapa kita tidak pernah silahturahmi ke rumah Mbah Kakung, Bapak selalu menjawab singkat, Kita sudah di usir Le, jadi Bapak tidak ingin membuat masalah dengan Mbah Kakung lagi."


"Selama ini aku hanya ingat suasana rumah ini dan keriangan masa kecil kelas satu SD. Tapi lokasi rumah ini baru aku ketahui dari wasiat Bapak yang ditulis tangan. Itu pun baru saya baca seminggu setelah Bapak meninggal."


"Ya jadi seperti itulah Ais, 30 tahun rumah ini dibiarkan seperti ini. Tidak hanya rumah, tapi kebun di depan itu, milik Mbah Kakung juga, kini menjadi semak belukar. Padahal dulu, kebun itu ditanami berbagai macam sayuran dan buah-buahan."


"Ais, sebaiknya kita tidak perlu masuk rumah dulu. Sebentar lagi magrib dan tidak ada penerangan. Kita sholat dulu di masjid depan tadi lalu menemui Pak Lurah untuk minta izin dan menyampaikan rencana renovasi rumah sebelum kita tinggali."


Mereka kemudian berjalan keluar halaman menuju mobil yang masih terparkir di depan pintu gerbang. Aisyah masuk ke mobil lebih dulu sementara Rahmat menutup pintu gerbang.


Saat Rahmat melihat ke rumah itu lagi, dia agak terkejut. Dari dalam rumah seolah-olah lampu-lampu mulai dinyalakan dan nampak bayangan beberapa orang sedang bergerak di dalam rumah itu. Saat itu juga bulu kuduk Rahmat seperti berdiri. Secara reflek Rahmat memejamkan mata dan langsung berucap lirih, "Audzubikalimatillahi tammati min syarri maa khalaq."


Rahmat ingat betul ketika dia masih kecil dulu, para pembantu Mbah Kakung selalu menyalakan lampu-lampu rumah tanpa diperintah menjelang magrib seperti saat ini. Rahmat membuka matanya dan melihat lagi ke rumah itu, tidak ada lagi cahaya dan bayangan orang di dalamnya.


Perlahan Rahmat menuju mobil, dalam hati dia berkata bahwa kejadian yang baru saja dia lihat tidak akan diceritakan pada Aisyah. Rahmat tidak ingin Aisyah terlibat dalam urusan-urusan yang tidak kasat mata. Sebetulnya Rahmat tahu, sebagai putri seorang Kyai kondang tentu Aisyah sudah dibekali ayahnya pengetahuan tentang hal-hal yang di luar jangkaun akal. Tapi Rahmat tidak ingin istrinya ikut terlibat langsung dalam urusan yang masih penuh misteri ini.


Rahmat mengendarai mobil perlahan menuju lapangan di tengah desa yang ada masjidnya. Aisyah di sampingnya sepertinya sedang melihat-lihat suasana desa yang mulai temeram. "Mas, rumah tetangga terdekat dari rumah Mbah sepertinya jauh ya?" tanya Aisyah sambil tetap melihat sekeliling.


"Iya," jawab Rahmat, "Sekarang sudah agak medingan, dulu seingatku, rumah terdekat itu lebih dari dua kilometer. Mbah Kakung mungkin sengaja membeli rumah di pinggiran desa karena dekat dengan tanah perkebunananya. Sekarang aku lihat sudah ada rumah lain walaupun yang terdekat masih sekitar 500 meter." ujar Rian menambahkan.


"oh.., jadi dulu Mas kalau sekolah jauh dong?"


"Iya, tapi tidak masalah, karena pegawai Mbah Kakung selalu antar jemput dengan motor. Dulu, walaupun rumah itu jauh dari tetangga tapi sepertinya selalu ramai. Seingatku, keluarga inti yang tinggal di rumah itu saja sudah lebih dari 10 orang. Ada Mbah Kakung dengan Mbah Putri. Pakde Parno, kakak Bapak yang pertama, dengan keluarganya 4 orang. Terus Bude Siti, Kakak Bapak kedua, juga 4 orang. Tambah lagi 3 orang dari keluarga Bapak. Pegawai Mbah Kakung kira-kira ada 5 orang yang juga tinggal di bagian belakang rumah itu."


"Wah..., pasti ramai ya, hampir 20 orang itu jadinya yang tinggal di situ," sahut Aisyah.


Tepat saat kumandang azan magrib, Rahmat dan Aisyah tiba di depan masjid. Mereka kemudian turun dari mobil dan bersiap untuk ikut sholat berjamaah.


Di dalam masjid, Rahmat merasakan bahwa jemaah lain tampak memandanginya seperti melihat orang asing. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya siapa aku ini, pikir Rahmat. Tapi Rahmat sementara tidak peduli, nanti setelah sholat baru akan menyapa mereka dan memperkenalkan dirinya.

Cerita Dewasa Bersambung

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


Politik

[politik][threecolumns]

Opini

[opini][bsummary]

Cerita Fiksi

[fiksi][bsummary]